Awal pemerintahan Jepang sejak menduduki
wilayah Enrekang, adalah membangun bunker-bunker pertahanan /sarana
pertahanan dan industri untuk mendukung peperangan.Bersamaan dengan itu,
para tentara Jepang juga mengadakan pembinaan terhadap generasi muda.
Pembinaan generasi muda itu, juga diharapkan untuk tujuan mendukung
dalam peperangan.
Pembangunan sarana pendukung pertahanan,
yakni membangun bunker-bunker/lubang-lubang pertahanan.Pembangunan
bunker-bunker pertahanan Jepang di wilayah Enrekang, dari segi jumlah
cukup banyak. Hasil inventarisasi yang dilaksanakan oleh Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Enrekang tahun 2004, berhasil
menginevnraisasi sebanyak 20-an bunker. Bunker-bunker tersebut,
tersebar di wilayah-wilayah pegunungan seperti di jejeran pegunungan
Bamba Puang di daerah Kotu, bahkan di wilayah perbatasan Enrekang dan
Pinrang yakni di Malimpung juga ditemukan bunker.
Lubang pengintaian dan vandalisme yang terdapat di dalam bunker
Di wilayah perbatasan Pinrang dan
Enrekang di Malimpung, ditemukan sebuah bunker di atas puncak gunung dan
pada bagian bawah di kampung Malimpung ditemukan sebuah hangar yang
menandakan bekas Lapangan Udara yang pernah di gunakan oleh Jepang
(Natsir dkk, 2003).
Pembangunan bunker-bunker petahanan
Jepang, dilakukan dengan jalan kerja paksa. Konsep pelaksanaan kerja
paksa yang diterapkan oleh Jepang, pada dasarnya hampir sama dengan
kerja wajib yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Kerja paksa
itu dilakukan dengan mewajibkan setiap anggota masyarakat yang sudah
dewasa untuk ikut dalam kegiatan pembangunan, termasuk pembangunan
pertahanan.Fungsi pemerintahan lokal juga sangat berarti dalam
memobilisasi tenaga kerja, dan dalam pelaksanannya diawasi langsung oleh
tentara Jepang.Oleh karena pengawasan itu langsung oleh tentara,
sehingga sangat dirasakan oleh masyarakat.
Selain membangun sarana pertahanan,
Jepang sejak menduduki wilayah Enrekang, juga membangun dan mendirikan
pendidikan militer, pada tahun 1944.Pendidikan itu didirikan di wilayah
Anggeraja, yakni di kampung Carruk.Tujuan utama pembinaan militer itu,
adalah untuk membina pemuda-pemuda di wilayah Enrekang dan bahkan ada
yang didatangkan dari luar Enrekang, untuk tujuan membantu Bala Tentara
Jepang kelak untuk menghadapi tentara Sekutu.Peserta latihan militer
yang dilakukan oleh Jepang itu, adalah pemuda-pemuda berumur sekitar 14
dan 15 tahun. Masyarakat setempat menyebutnya dengan (di pangbarisi),
dalam satu kelompok bernama Seinendan untuk kelompok umur 15 tahun,
sedangkan kelompok umur 14 tahun ke bawah disebut Seinenku Rensho.
Latihan baris-berbaris itu, dilakukan bukan saja di Carruk sebagai pusat
pendidikan, akan tetapi juga dilakukan di wilayah lainnya di Enrekang
seperti di Buntu Tangla. Pelatihan militer atau barisan pertahanan
rakyat itu, dibina dan dipimpin langsung oleh tentara jepang.
Barisan pertahanan rakyat lainnya yang
dibentuk oleh jepang, yaitu Keibodan yang khusus berfungsi sebagai
barisan Bantu kepolisian, Suisintai, yaitu barisan pelopor yang bertugas
mempelopori pertahanan wilayah dari serangan Sekutu. Disamping itu
dikenal juga kelompok pertahanan/latihan militer dibentuk Heiho, yang
tujuan pokoknya adalah pasukan Bantu Angkatan Darat.Murid-murid peserta
pelatihan militer Jepang itu, dimaksudkan sebagai tentara pembantu
Jepang, sebagai pasukan Bantu dan bahkan diharapkan menjadi pasukan
berani mati (jabakutai).
Murid-murid latih militer Jepang itu,
selain mendapatkan latihan fisik militer, mereka juga diberi materi yang
berfungsi mencuci otaknya dan mengarahkan agar mereka anti Sekutu,
seperti Inggris dan Amerika.Upaya psikologis itu, dilakukan dalam bentuk
nyanyian-nyanyian dalam pendidikan. Salah satu nyanyian-nyanyian itu
dikemukakan oleh Nawir; Awas Inggris dan Amerika, musuh bagi Asia,
Inggris harus diberi linggis, Amerika harus disterika (Nawir,
1997).Nyanyian itu merupakan bahagian dari pemberi semangat militer, dan
secara emosional membangkitkan semangat anti Inggris dan Amerika.
Luaran pendidikan latihan militer Jepang itu, kemudian banyak yang
menjadi pejuang (mempunyai pengetahuan militer), dalam masa perjuangan
melawan penjajah termasuk Penjajah Jepang. Hal itu kemudian dibuktikan
dengan pemberian Tanda Kehormatan bagi orang yang memberi pertolongan
melawan Jepang tahun 1942-1945, yang dilakukan kemudian oleh
Zelfbeestuur Enrekang pada tahun 1949. Pemberian penghargaan itu
dilakukan melalui Surat tanggal 2 Agustus 1949 (Arsip Pemda Tk. II
Enrekang, Reg. No. 47).
Luaran latihan militer Jepang itu
seperti Uwak Gading, Uwak Tapak, Ambe Teppo, Puang Senga, Matta dan
sebagainya. Nama-nama itu kemudian menjadi lasykar pejuang pada jaman
revolusi kemerdekaan.
Sekolah-sekolah militer yang didirikan oleh tentara Jepang di Anggeraja Enrekang, adalah sebagai berikut :
- Pendidikan Seinendan (latihan pertahanan rakyat), pendidikan itu khusus bagi pemuda yang berumur 15 tahun ke atas.
- Pendidikan Seinenku-Rensho (latihan pertahanan rakyat). Latihan kemiliteran itu khusus diperuntukkan bagi anak-anak berumur 14 tahun ke bawah.
- Keibodan (barisan Bantu kepolisian).
- Pendidikan Suisintai (barisan pelopor pertahanan wilayah).
- Heiho ( barisan Bantu Angkatan Darat).
Pendidikan militer Jepang yang
ditempatkan di Carruk Anggeraja Enrekang itu, diikuti oleh pemuda-pemuda
utusan selain dari Enrekang sendiri, juga utusan dari daerah lain
seperti Luwu, Tator, Sidrap, Pinrang dan lain-lain. Setelah mengikuti
pendidikan itu, semua dikembalikan ke daerahnya masing-masing.
DENAH BUNKER
Posisi bunker i berada pada poros jalan provinsi tepatnya di lereng bukit Dusun Lura, Desa mandatte, Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang dengan posisi astronomi S 03°27’00,6” yang jaraknya dari jalan poros ± 100 m, dengan kemiringan lereng bukit 45°, dengan denah dasar bangunan bentuk persegi enam, yang dilengkapi dengan 1 (satu) buah pintu, lubang pengintaian 4 buah bentuk trapesium dan lubang ventilasi 3 buah bentuk persegi empat panjang. Bunker ini menggunakan material beton bertulang, arah hadap pintu Tenggara – Timur laut. Bunker tersebut berbatasan langsung dengan lereng bukit di bagian utara, sungai mata allo da bukit buntu kabobong di bagian timur, rumah makam gua jepang/jalan poros dan lereng bukit di bagian barat dan jurang/lereng bukit di bagian selatan. Lingkungan mikro keletakan bunker dikeliling bukit gundul dan bukit ini di manfaatkan sebagai lahan kebun.
sumber : http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/2015/04/30/bunker-jepang-di-kabupaten-enrekang-propinsi-sulawesi-selatan/



0 komentar:
Posting Komentar
Peraturan Berkomentar :
- Dilarang berkomentar unsur Negatif (SARA)
- Dilarang menyertakan sebuah Link Aktif
- Dilarang Spam
- Dilarang membully
Mohon pengertiannya, apabila ada yang melanggar saya selaku admin tidak segan-segan menghapus komentar anda.
Atas perhatiannya , saya ucapkan terimakasih